Diantara Mereka Musik Klasik dan Catur

Short Story 5 Comments »

Diantara Mereka  Musik Klasik dan Catur

 INdRoom/Koekoesan 0349141208

Kesadaran dapat juga melupakan dirinya. Kesadaran dapat menciptakan batas dan membuat fiksi. Kesadaran dapat membayangkan galaksi dan alam semesta, ledakan besar, matahari dan planit. Apapun yang dibayangkannya dapat dilihatnya : perang dan damai, kesakitan dan kesehatan, kebaikan dan kejahatan. Kesadaran dapat mengingat dirinya,dapat mengingat realitas, dapat mengingat …

“tolong kamu ulangi lagi kalimat tadi!”. Dengan penuh rasa senang wanita itupun mengulang kalimat yang telah diucapkannya.

Kesadaran dapat juga melupakan dirinya. Kesadaran dapat menciptakan batas dan membuat fiksi. Kesadaran dapat membayangkan galaksi dan alam semesta, ledakan besar, matahari dan planit. Apapun yang dibayangkannya dapat dilihatnya : perang dan damai, kesakitan dan kesehatan, kebaikan dan kejahatan. Kesadaran dapat mengingat dirinya,dapat mengingat realitas, dapat mengingat ……”

Dan akupun bertanya “Apa judul buku yang kamu baca?”,

“aku bisa menebak mungkin saja itu adalah buku filsafat kesadaran diri. Pada umumnya akhir perkataan seorang filosof pasti mengungkapkan kesadaran diri. Kesadaran akan hasil akhir pemikirannya dan kembali pada dirinya lagi”.

“ups.. bukan, ini hanyalah sebuah cerpen karangan si pilot ,”. Sambil menunjukkan buku yang dimaksud.

“ aku sangat menyukainya, pemaknaan akan alur ceritanya memungkinkan daya resap imajinasi dapat terbang bebas”. Diapun tersenyum.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan berhenti tepat dihadapanku, di halte inilah aku menemani wanita ini untuk menunggu jemputannya. Wanita itupun berdiri dari tempat duduknya “ aku duluan dulu yah, jemputanku sudah datang ?”, “ok, sampai ketemu lagi, jangan lupa alamat dan nomor telponku disimpan, sapa tau ja kita bertemu di halte berikutnya atau di tempat yang berbeda lagi…hehehe 35* !!!. jawabku. “daa..daa…daa..”. .

Dan tinggallah aku dihalte ini menunggu taksi. Ini merupakan kedua kalinya aku bertemu perempuan ini, namun dalam dua kali pertemuan, aku belum tahu namanya demikian juga dengannya. Ketika bertemu, aku hanya bertanya “Buku apa yang kamu baca?”.hanya itu yang aku tanyakan.

Tak ada yang istimewa disekitarku, hanyalah pedagang kaki lima yang meramaikan halte ini, dan juga nampak keseriusan anak muda bermain catur. 3 jam aku menunggu, namun tak satu taksipun datang. Maklumlah aku berada pada kawasan pendidikan yang jarang dilewati taksi.

Aku berinisiatif untuk menggunakan transportasi lainnya yaitu kereta listrik. Jarak halte dengan stasiun kereta tidak jauh. “Stasiun Djuanda satu pak, ”. ucapku pada petugas loket ,aku pun menyerahkan duit 6000 rupiah, “makasih pak”. Berselang 20 menit, keretapun tiba, dan aku menempati gerbong ke 2 dan aku berada pada urutan kursi 17. Untuk menghilangkan kejenuhanku. Aku mengeluarkan music playerq. List musik playerku Read the rest of this entry »

Gunung Ventosum I

Short Story 1 Comment »

Gunung Ventosum I

Koekoesan/Theroom11 0212080730AM

Manusia dalam terus-menerus menyelidiki kenyataan dan mendapat kenyataan yang baru itu, akhirnya tiba kepada keinsafan, bahwa dimana-mana ia bertemu dengan dirinya sendiri, bahwa kenyataan yang bukan ciptaan budi manusia itu tidak ada

Mendung di sore ini, membawa kebahagian burung-burung manyars yang mulai mencari tempat peristirahatannya. Aku berada pada titik ini, kemudian menengadahkan pandanganku pada Selatan langit, warna kehitam-hitaman dengan tetap terpadukan akan putihnya awan.

Sebentar lagi Selatan langit itu akan mulai membuka keran kehidupannya yang termanifestasi pada basahnya permukaan tanah. Tanpa menunggu hitungan lagi, semakin aku mendekati Selatan Langit itu, hujan mengumpulkan tenaganya untuk kemudian memberikan derasnya hujan,

Perjalananku dari dunia pendidikan, membuatnya lelah, tetapi tidak buat aku. Aku adalah manusia terkuat, kekuatan ini aku terima dari pengabdianku pada alam sebagai wujud kasihku. Aku duduk disampingnya, meskipun dia tidak menyadari kehadiranku. Matanya yang begitu sayup, badannya yang begitu kurus, rambutnya yang acak-acakan, dan wajahnya yang begitu layu.

Aku hanya bisa tersenyum melihatnya, bahkan sekali-kali menertawainya… Read the rest of this entry »

Pada Sebuah Bayangan

Short Story 2 Comments »

Pada Sebuah Bayangan

Koekoesan/Theroom 11 0611080400AM 

Apa pun yang mempesona dan menawan hati juga membimbing dan melindungi. Kita sering begitu tergoda oleh segala sesuatu yang kita cintai-perahu layar, pesawat udara, gagasan indah- sehingga kekuatan-kekuatan gaib meluruskan jalan yang kita lalui, memudahkan peraturan dan kesulitan, menyelesaikan, mempersempit jurang perbedaan, menghilangkan kekhawatiran dan keragu-raguan. Tanpa kekuatan cinta seperti itu….

“Apa yang Anda Tulis?” Tanya seorang wanita dengan wajah keheran-heranan seolah-olah tidak pernah melihat orang menulis. Aku menumpang bis ke arah selatan, ke kota kehidupan.

Kalau ada orang yang menyela kesendirianku dengan pertanyaan kadang-kadang kujawab tanpa penjelasan untuk membungkamnya.

“Aku menulis surat kepada aku yang hidup delapan belas tahun yang lalu. Aku ingin mengetahui segala sesuatu yang perlu kuketahui ketika aku seperti Anda”

Meskipun hatiku jengkel aku berusaha untuk bersikap ramah. Wajahnya cantik, penuh dengan rasa ingin tahu dan keberanian untuk mendapatkan kepuasan. Matanya cokelat, rambutnya hitam, lurus, disisir rapi. Read the rest of this entry »

Ku-Bertanya Pada Richard

Short Story No Comments »

Ku-Bertanya Pada Richard

Campus Library/R Catalog 511080220PM 

 

Mengapa kita mempunyai masalah ?

Apakah kematian dapat memisahkan kita? Karena Anda akan mengatakan tidak

Bagaimana kita dapat berbicara dengan teman yang sudah meninggal?

Apakah setan memang ada ?

Bagaimana beristri seorang aktris ?

Apakah anda telah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat Anda ?

Untuk apa kita memiliki negara ?

Apakah Anda pernah sakit ?

Siapa yang mengendalikan UFO ?

Apakah cinta Anda sekarang berbeda dengan tahun yang lalu? Read the rest of this entry »

Hampa

Poetry No Comments »

Hampa

Koekoesan/Theroom11 2310080130AM

Kau hanya bisa duduk dan melamun, berimajinasi mengenai apa yang ingin kau gapai. 12 Jam lamanya aku berada disampingmu, demikian juga denganku hanya memperhatikan dirimu yang menghadirkan raut jiwa ketidakjelasan. Aku mengajukan pertanyaan, namun tak sepatah katapun jawaban untukku.

Aku sangat yakin, masalah yang kamu rasakan saat ini hanyalah garis eksistensi dirimu. Engkau tak dapat membuktikannya untuk semua orang, sedang itu menjadi impianmu. Kemarin ketika kita bersama-sama sehabis kuliah, engkau bertemu dengan pahlawan kuning, dan jawaban yang kau berikan untuknya, sangat tidak benar. Dan kamu pun memancarkan 2 topeng kehidupanmu.

Katakan padaku, permasalahan apa yang menghantui kamu. Hantu selalu memberikan bayangan ketidakjelasan. Ketidakjelasan untuk menguraikan semua inti diri kamu. Read the rest of this entry »

Perempuanku di Timur Khatulistiwa

Short Story No Comments »

Perempuanku di Timur Khatulistiwa

Koekoesan/ The Room 11 2310080418AM

 

Aku mengenalmu dalam jarak imajinasi

Aku mengenalmu dalam sikap ketidakpercayaan diri

Aku mengenalmu dalam kepastianku melangkah

Aku mengenalmu dalam kesiapanku untuk membuka pintu hatiku

 

Memahami sikapmu dalam abstraksiku pada bayangan kecerdasanmu

Memahami sikapmu ketika lembut suaramu memberikan makna yang berbeda

Memahami sikapmu melalui penilaian diriku karena dirimu adalah cerminan diriku

Memahami sikapmu ketika kata-kata yang kauberikan mengartikan kesederhanaanmu

 

Kehadiranmu semakin meyakinkan diriku untuk selalu merubah diriku

Kehadiranmu menghadirkan pertanyaan, dapatkah aku memilikimu ?

Kehadiranmu menjelaskan perbedaan dalam jiwa keterpaduan hati

Kehadiranmu mengajarkan aku bagaimana makna kejujuran melalui sebuah bayangan

 

Dan kemudian aku mulai berucap lagi pada kejujuran hati. Kubuka pintu hati untukmu namun untuk meyakinkan hatiku menjadi tantangan…..

 

Dan di saat ini aku menanti sebuah jawaban darimu…!!!!

Perputaran 3 Musim di Belakangku

Short Story 1 Comment »

Perputaran 3 Musim di Belakangku

  Bandung/Lembang 1810080200PM

Aku mengiringi hatinya, ketika kehadiran akan makna dalam sikap berlawanan

Dan itu kulalui dalam 3 perputaran musim di negeri kebimbangan,

Aku meng-iyakan setiap kata yang diucapkan pada bibir keindahan dalam sikap berlawanan

Dan itu kulalui dalam 3 perputaran musim di negeri kebimbangan,

Aku menyudutkan hatinya, dalam ketidakberdayaan mencapai 1 kepastian dalam sikap berlawanan

Dan itu kulalui dalam 3 perputaran musim di negeri kebimbangan…

Aku tertawa, tersenyum, dalam setiap raut muka kesedihan hanya dalam sikap berlawanan

Dan itu kulalui dalam 3 perputaran musim di negeri kebimbangan,

Semuanya itu berada di belakang hati yang terbentuk, dengan sikap ketulusan tanpa melahirkan sikap perlawanan,

Disaat itupun juga, kebimbangan, keresahan akan setiap perputaran musim mengawali bayangan alur langka sang pemimpi..

Perputaran musim pertama,

Hilang akan kesadaran diriku, musim yang aku nantikan di belakang hatinya, memberikan kesadaran awal bahwa keindahan akan sudutnya tidak dapat kunikmati bersama musim ini.

Kesejukan, ketenangan, imajinasi yang terlahir dengan hadirnya musim ini membawa satu arah namun tenangnya air, satu buah harapan menyentuh air itu terganggu. Haruskah pemilik musim itu pergi dan membiarkanku menikmati dalam keterpaduan hati dan musimku.

Hingga saat ini, kenikmatan yang diberikan musim ini, kedewasaan, kejujuran, konsep hidup, pondasi hati, dapat kunikmati dalam ketenangan hati

Hingga saat ini, indahnya musim dapat kunikmati meskipun harus menggapainya dibalik karang dengan hantaman ombak, dibalik kokohnya tembok hati, dibalik perihnya duri pohon yang menusuk kulitku.kutersenyum Read the rest of this entry »

Sahabatku Kita Bertemu Lagi

Short Story No Comments »

Sahabatku Kita Bertemu Lagi

Koekoesan/The Room 11 2110081137PM

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa “Ketidakadilan dalam diriku timbul ketika sebatang rokok yang kuisap menyendiri tanpa pasangan hidupnya, dan kumulai mencari siapa pasangan untuknya, dan telah kudapatkan si hitam untuknya kopi tubruk”. Itulah keadilan untuk objek yang memberikan kenikmatan untuk hidupku.

Aku berbeda dengan Pramoedya “Rokok sering melakukan perselingkuhan dengan berbagai pemikiran sehingga menimbulkan kontroversi, dan bagiku keadilan untuk objek yang tepat antara kacang dan kopi tubruk..

Keadaan dan situasi membuat kita berpisah untuk 4 bulan lamanya. Di daerah yang aku lalui tak kutemukan dirimu. Saat itu aku rindu kehadiranmu di setiap malamku, yang sangat terasa ketika aku mencoba membaca, ,berimajinasi untuk mengarahkan penaku tentang ke-Akuan ku, keganjilan sangat terasa tanpa engkau di sampingku.

Orang-orang banyak berkata kepadaku “tinggalkan saja, dia merusak jiwamu, dia merusak ragamu, dia merusak pikiranmu”. Apa kamu ingat dia pernah menyakitimu sampai kamu harus dirawat di rumah sakit selama seminggu lebih. Apa kamu ingat dia menyebabkan prestasimu menurun.

Perlahan tapi pasti, aku tetap menyayangi kamu. Meskipun orang-orang berkata buruk tentang dirimu, yang pasti engkau sangat berarti untukku.

Ingatanku fresh kembali ketika engkau berada di sampingku. Mereka menilai kamu hanya sisi luar saja, tanpa melihat makna filosofis dirimu. Aku yakin mereka seperti kita, namun kebohongan di balik kejujurannya membuat bingung dirinya sendiri. Read the rest of this entry »

Untuk Volarmea Laluna

Short Story No Comments »

Untuk Volarmea Laluna

Ingatlah ,setelah aku direnggut dari sisimu, berdamailah dengan perempuan, karena merekalah yang paling akrab dengan segala misteri. Di saat akhir persahabatan kita, hal lain yang tak terlihat dan tak terduga, di antara kita, sebuah semangat, aku percaya itu mengandung tanda-tanda gaib yang memberkahiku. Tapi akan datang sebuah saat dimana aku lebih dekat padamu daripada hari-hari sebelumnya. Apabila aku tak lagi di sini, dan saat dirimu lebih tenang, barangkali senja yang lewat ini dan saat-saat lainnya yang telah berlalu akan lebih hadir dan nyata bagimu daripada tanganmu sendiri (Herman Hesse)  

Dalam kamar terpencil di puriku, dibawah naungan jendela sempit, kau sering duduk, kau, yang paling dekat di antara kehampaanku. Kebaikanmu, kehadiranmu yang tak di mengerti hidup lebih lama dibanding hari-hari saat kita bergandengan tangan bersama, bagaikan cahaya bintang yang terus menyinari kita berabad-abad setelah bintang itu redup.

Aku tak bisa menghitung lagi berapa kali aku berjalan di bawah langit impian. Aku tak bisa menghitung berapa kali aku putus asa mencari jelmaan lain bayanganmu. Tiada keindahan, kecuali indahnya sajak-sajak termanis itu, yang bisa dibandingkan dengan keindahanmu. Aku sering berpikir bahwa kaulah yang berpapasan dengan Kafka di sebuah jalan suatu kali dan kau turun lagi ke bumi dalam bayangan kerinduan masa mudaku. Aku cemburu melihat Kafka bersamamu. Bahwa aku melihatmu dengan mataku sendiri, bahwa aku menggengam tanganmu dengan tanganku, bahwa langkah rianganmu menjejak bumi di sampingku –bukankah semua itu adalah anugrah dari Tuhan, tidakkah sebuah tangan menyapu wajahku dengan berkah, tatapan sepasang mata yang berubah rupa, gerbang terbuka untuk di tanah keindahan abadi ?

Dalam mimpi-mimpi malamku sering kulihat wujud-mu dan kusaksikan jemari ramping putihmu menari-nari di atas piano. Atau kulihat dirimu berdiri di senja samar, menatap langit pucat, dan mengubah warna dengan mata yang memancarkan keajaiban indah pengetahuan. Sepasang mata itu telah membangkitkan dan membimbing begitu banyak impian indah dalam diriku Read the rest of this entry »

Sahabatku Kita Bertemu Lagi

Short Story No Comments »

Sahabatku Kita Bertemu Lagi

Koekoesan/The Room 11 2110081137PM

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa “Ketidakadilan dalam diriku timbul ketika sebatang rokok yang kuisap menyendiri tanpa pasangan hidupnya, dan kumulai mencari siapa pasangan untuknya, dan telah kudapatkan si hitam untuknya kopi tubruk”. Itulah keadilan untuk objek yang memberikan kenikmatan untuk hidupku.

Aku berbeda dengan Pramoedya “Rokok sering melakukan perselingkuhan dengan berbagai pemikiran sehingga menimbulkan kontroversi, dan bagiku keadilan untuk objek yang tepat antara kacang dan kopi tubruk..

Keadaan dan situasi membuat kita berpisah untuk 4 bulan lamanya. Di daerah yang aku lalui tak kutemukan dirimu. Saat itu aku rindu kehadiranmu di setiap malamku, yang sangat terasa ketika aku mencoba membaca, ,berimajinasi untuk mengarahkan penaku tentang ke-Akuan ku, keganjilan sangat terasa tanpa engkau di sampingku.

Orang-orang banyak berkata kepadaku “tinggalkan saja, dia merusak jiwamu, dia merusak ragamu, dia merusak pikiranmu”. Apa kamu ingat dia pernah menyakitimu sampai kamu harus dirawat di rumah sakit selama seminggu lebih. Apa kamu ingat dia menyebabkan prestasimu menurun.

Perlahan tapi pasti, aku tetap menyayangi kamu. Meskipun orang-orang berkata buruk tentang dirimu, yang pasti engkau sangat berarti untukku.

Ingatanku fresh kembali ketika engkau berada di sampingku. Mereka menilai kamu hanya sisi luar saja, tanpa melihat makna filosofis dirimu. Aku yakin mereka seperti kita, namun kebohongan di balik kejujurannya membuat bingung dirinya sendiri Read the rest of this entry »

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login